|
 |
|
Saturday, March 25, 2006
Akankah? Refleksi Dari Sebuah Pertanyaan
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum wrwb,......Salam Revolusioners...........
Pada suatu hari ada seorang ibu melihat buku yang sedang saya baca yang berjudul "Tasawuf", entah mengapa dia langsung agak terlihat mencibir terhadap buku yang tengah saya baca itu, dan langsung bertanya kepada saya. " Buku ini isinya ttg apa see?", saya langsung balik tanya kepada dia "Memangnya ada apa tante?", trus dia bilang bahwa Pak A (yang saya kenal dan ibu itu jg kenal) itu sangat berubah ketika selesai belajar ilmu ini jawabnya, berubah bgmn tante? sahut saya, "iya dia jd sangat fanatik terhadap agama dan sering banyak menasihati orang lain dgn sesuatu yang aneh2",jawab ibu itu "Nasehat yang aneh bgmn tante?", sahut saya lagi," iya seperti menasehati ke ibu2 kl makan itu jgn sambil diri, trus sama bapak2 nya menasehati agar kl pake celana jgn pendek2 dong harus di bawah lutut dong, kan padahal kl laki2 see gpp kan, kecuali kl cewe, itu baru jadi masalah" jawab ibu itu dengan sedikit emosional.
Dari kejadian itu kemudian saya ada rasa risau dalam diri saya, bahwa ada hal yang memang perlu dikritisi dari kejadian ini.......
Apakah memang syariat Islam telah sedemikian asingnya kah bagi Umat Islam itu sendiri sehingga ibu itu dgn merasa yakin bahwa memang sikap bapak itu telah salah???dan menilai sikap fanatik terhadap agama adalah hal yang negatif???
Fanatik dalam artian menjiwai agama itu sendiri sepenuh hati, saya yakin adalah hal yang sangat baik, lain halnya ketika fanatik itu di berikan kepada sebuah ras ato golongan. Dan fanatik yang bermakna negatif timbul bukan karena penjiwaan thdp agama yang sangat mendalam, melainkan sebenarnya kesalahan itu timbul dari salahnya seseorang memahami thdp ajaran agama itu sendiri.
Dan di tambah cerita dari temen saya abah_ram ( gw inget cerita dari lw ram ttg pertemuan anak2 jakmania yang di undang ke pertemuan yang membahas ttg sikap fanatisme, yang kemudian menyangkutkan sikap terorisme dengan sebuah sikap fanatisme), karena menurut saya hal ini sangat mengaburkan pengertian yang positif dari fanatisme, menjadi pengertian yang bersifat nagatif, dan efek dari ini semua adalah rasa alergi yang akan timbul dalam jiwa umat2 Islam yang kurang memahami syariat Islam secara komprehensif, sehingga syariat Islam itu sendiri di anggap sebagai sesuatu yang harus di jauhi.....naujubillah.......
Apakah syariat ini harus di kambing hitamkan demi sebuah kebodohan2 (Maaf kl kata2 saya kasar) yang ada pada umat Islam itu sendiri ???
Hanya karena syariat Islam itu kurang memasyarakat, lalu kemudian melabelkan syariat Islam itu sebagai produk dari Islam sempalan???
Sungguh benar junjungan kita Nabi SAW yang bersabda bahwa " Pada akhir jaman nanti agama ini (Islam) yang timbul dari sesautu yang asing akan kembali menjadi asing, dan siapa yang memegang teguh agama ini dia akan merasakan seperti memegang bara di tangannya"
Wallahua'lam
-ayoeng-
Posted at 07:50 pm by ayoeng
Permalink
Mari Buat Segalanya Syar'i
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum wrwb
Salam revolusioners bagi semua saudara2 seperjuangan,.....
Dulu pada jaman orde baru berkuasa, yang namanya politik itu tabu banget buat masyarakat Indonesia, pokoknya kl orang dah denger kata politik pasti aja alergi, apa lagi di mesjid2 ...hampir2 politik itu najis, tapi begitu masa reformasi bergulir muncul berbagai partai politik yang bernuansakan islam. Dan pada kemunculannya ada memang yang benar2 pure nuansa Islami tapi juga ada yang menggunakan topeng agama, tapi ada salah satu partai yang membuat saya terhenyak bahwa sesungguhnya bukan politik lah yang kotor, tapi para pelakunya lah yang kotor dan kita sebagai kaum rahmatan lil alamin tentu tidak bisa membiarkan hal itu terjadi begitu saja, kita harus berusaha membersihkan kekotoran itu.
Pada masa Nabi SAW Mesjid benar2 berfungsi sebagai pusat sgala kegiatan kaum muslim, tapi skrang mesjid terlihat seperti tempat orang2 lemah di mana mereka mengadukan kelemahannya itu kepada suatu sosok yang di sebut TUHAN, tidakkah ini sebuah ironi. Ya benar Mesjid memang tempat untuk itu, tapi bukan hanya sebatas itu.....fungsi dari mesjid, mesjid pada masa Nabi SAW masih hidup berfungsi utk berbagai macam kegiatan, baik itu uhkrawi mau pun keduniawian, hal ini lah yang saya pandang sebagai suatu kekurangan yang ada pada umat Islam pada saat ini...yaitu :"TIDAK ADA KEINGINAN UNTUK MEMBUMIKAN/MEMASYARAKATKAN SEBUAH SYARIAH,.....TIDAK ADA KEINGINAN UNTUK MEMPERBAIKI KESALAHAN2 YANG SUDAH TERLANJUR BEREDAR DI MASYARAKAT"....
Mungkin bagi seorang muslim yang memperdulikan syariat pantang bagi dia untuk melakukan olahraga renang, karena bila ia berenang maka itu berarti ia mengumbar auratnya di depan umum, dan memang pemikiran ini benar sekali tapi kita tidak boleh berhenti sampai di situ saja kita harus berusaha agar bgmn olah raga ini menjadi syar'i, bisa dengan contoh membuat kolom renang yang terpisah antara kaum akhwat dan ikhwan.
Atau jika kita melihat olah raga sepak bola yang sudah begitu memasyarakat secara syar'i walau pun ini terliahat hal yang enteng tapi secara syar'i pakaian yang di kenakan oleh para pemain sepak bola sudah melanggar syar'i, karena celana yg di kenakan di atas lutut (walau pun ada sebagian mazhab yang membolehkan hal itu..).
Di sinilah seharusnya kita mencoba menyatukan kekuatan untuk membenahi semua kekurangan (dalam paradigama Islam) yang ada ini, dengan cara membuat sebuah modifikasi sebuah aplikasi dari berbagai fenomena yang telah melanggar syar'i ini yang sudah terlanjur beredar di masyarakat sekarang ini. EX: dalam bidang politik kita harus mencoba membersihkan segala kekotoran2 yang ada di dunia politik, dengan cara berpolitik secara syar'i, atau kita membuat sebuah perkumpulan pemodal utk membuat sebauh kolom renang yang kolam itu terpisah antara akhwat dan ikhwannya, bisa dengan cara mengumpulkan uang kas dari para anggota, atau bagi yang menyenangi sepak bola mulai dari diri sendiri utk memakai celana minimal 3/4 ketika bermain sepak bola dan berharap itu akan menjadi trend suatu saat (who know's..?).
Tapi yang jelas semua ini tidak bisa dilakukan oleh satu orang tapi butuh solodaritas dari setiap individu muslim yang peduli akan hal ini.......
Wallahua'lam
Cibubur, Lupa tanggal
-ayoeng-
Posted at 07:47 pm by ayoeng
Permalink
Dengarkan aku!, aku adalah seradadu keyakinan
Sebentar kawan kau tunggu di sini, aku ingin mencari sekuntum mawar yang dapat menjelaskan perihal diriku dan juga pandanganku agar aku bisa melihat bahwa air itu bening, bahwa udara itu segar, bahwa matahari itu menerangi.
Ku lewati tikungan yang pertama, dan kudapatkan teman sekuntum mawar di sana yang sungguh menarik hati, warnanya, harumnya, sungguh dirinya telah sanggup menarik diriku dari tubuhku, tak peduli betapa banyak luka goresan pada tubuhku akibat durinya, karena ku telah menemukan kabahagiaanku dengannya, namun ketika baru sejenak ku nikmati dirinya dia telah layu, sambil layu ia berkata jangan salahkan aku, aku hanyalah mengikuti kodrat diriku, ketika kau lihat aku, aku menarik perhatianmu, ketika kau mendekati diriku telah tercapailah tujuanku, tak lain hanya ingin menodaimu dengan sedikit darah akibat duriku.
Lalu kutinggalkan dirinya dan berharap ada teman yang lebih baik darinya…………
Masih di jalan ini kutemukan tikungan yang ke dua, nah!..., dengan sedikit teriakan bersemangat, kata- kata itu seolah merupakan akhir dari segala pencarianku, karena ku temukan sekuntum mawar lagi, namun kali ini tanpa duri pada dirinya, ku dekati dirinya, lalu ku lihat diriku….tak segorespun kudapati luka pada diriku…..Alhamdulillah………..warnanya, harumnya, walaupun tidak sememikat dari mawar yang pertama, namun dia tidak melukai, ketika sejenak ku nikmati dirinya, mawar ini pun layu, dan sambil layu mawar inipun berkata, jangan salahkan aku, inilah kodratku, walaupun aku tak melukaimu, bukan aku yang bisa menjelaskan perihal dirimu dan juga pandanganmu, jalan yang kau tempuh ini adalah jalan keterbatasan, justru yang bisa menjelaskan perihal dirimu dan juga pandanganmu adalah kawan yang kau tinggalkan di ujung jalan sana, karena dia adalah suara hati yang selalu mengantar kepada kehakikian, serdadu dari keyakinan.
Cibubur, 10 Ramadhan 1426 H/ 14 Oktober 2005 M
-ayoeng-
NB: Jadikanlah Ramadhan ini sebagai ruang mendewasakan suara hati, jangan selalu kita kerdilkan dia dengan mengabaikannya. Dia hanya meyakini apa yang kita yakini, dia hanya ingin memastikan bahwa kita harus berjalan pada rel yang kita yakini, oleh karena itu dekatkanlah ia selalu kapada Cahaya Kebenaran akan sebuah keyakinan.
Posted at 07:43 pm by ayoeng
Permalink
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
ASSALAMUALAIKUM WR WB,
SALAM REVOLUSIONERS SAHABAT SEMUA…….
Baginda Nabi SAW (Allahuma shalli wasalim wa barik alaih wa sohbih) pernah bersabda " Barangsiapa yang tidak peduli dengan permasalahan umatku, maka dia bukan bagian dari umatku"
Umat Islam sekarang ini sedang di hadapkan pada berbagai permasalahan yang sangat complex, mulai dari peperangan seperti yang terjadi di Irak, Palestina. Maraknya berbagai pemikiran dalam Islam yang adanya seperti duri dalam daging membuat berbagai permasalahan dilematis bagi umat Islam sendiri, banyaknya bencana alam yang melanda umat islam seperti yang terjadi di Pakistan dan India yang menelan hingga 25000 orang, juga bencana yang terjadi belum lama ini di Aceh, belum lagi isu2 teroris yang juga melanda umat Islam………..,SUBHANALLAH……….
Seperti apakah wajah Rasulullah SAW ketika melihat umatnya dalam keadaan seperti ini???
Pada saat menjelang kematian beliau saja, beliau selalu teringat pada umatnya, belum lagi ketika mendengar berita dari jibril as bahwa ada sebagian umatnya yang akan mencicipi neraka, beliau langsung mengurung diri dalam kamar dengan di temani jibril as mereka menangis hingga mata Rasul SAW yang mulia terlihat bengkak…..subhanallah, benar- benar pemimpin yang cinta kepada umatnya……….ALLAHUMA SHALLI WASALIM WA BARIK ALIH WA ALA ALAIH…………
Oleh karena itu dalam bulan Ramadhan ini, di mana ada satu waktu di ijabahnya suatu doa yaitu pada saat sebelum berbuka puasa, maka saya menyarankan kepada sahabat semua agar minimal kita memberikan doa khusus bagi kebaikan umat Islam di seluruh dunia, agar Rasulullah SAW bisa tersenyum melihat umatnya saling peduli terhadap sesamanya. Dan tentunya juga tidak lupa dengan shalawat bagi junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW……..semoga bulan Ramadhan ini menjadi bulan Silaturahim doa bagi seluruh umat Islam……….
Wallahua'lam
Cibubur, Lupa tanggal, yg jelas ramadhan taun 1426 H
-ayoeng-
Posted at 07:39 pm by ayoeng
Permalink
Berdakwalah Sesuai Dengan Jati Diri Kita
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum wrwb......
Salam Revolusioners, sahabat semua.....
Saya hanya sekedar mencoba menempatkan dan menjelaskan metode dakwah yang saya anggap benar, terlepas apakah pendapat saya ini benar adanya atau tidak.
Saya pernah berbincang dengan salah seorang kawan dari jama'ah tabligh (khuruj= jama'ah yang biasanya menetap sekian hari di dalam mesjid utk berdakwah), ternyata kawan saya ini adalah seorang lulusan kampus ternama di Jakarta yang kebetulan dia mengambil ilmu sospol sebagai disiplin ilmu yang di tekuninya, sebentar saya sempat berdiskusi dengan dia mengenai masalah perpolitikan di Indoensia terutama politik kaum muslimin di Indonesia, ternyata analisisnya tentang dunia perpolitikan di Indonesia sangat tajam dan cukup membangun, trus saya tanya kenapa saudara tidak terjun saja ke dunia politik untuk ikut membantu saudara muslim kita dalam membenahi permasalahan perpolitikan ini, lalu dia menjawab bahwa dunia politik adalah kotor dan lebih aman untuk berdakwah dengan metode seperti ini……….
Saya hanya berpikir apakah bila seseorang berdakwah dalam perpolitikan itu memang tidak bisa???, karena saya pikir dakwah itu bisa di lakukan di berbagai sendi kehidupan, karena kunci dakwah yang utama adalah membenahi segala sendi kehidupan yang keluar dari aturan agama kepada sebuah kehidupan yang berlandaskan aturan agama.
Tapi bukan berarti metode dakwah yang di lakukan jama'ah tabligh ini salah, malah saya beranggapan metode ini sangat brilian utk sebuah metode dakwah, bisa di lihat hasil yang telah di dapat para mujahid jama'ah tabligh yang di tandai dengan banyaknya preman2 yang tobat asbab dari mereka ini, namun saya hanya ingin menekankan bahwa dakwah itu tidak berscop kecil, melainkan berscop besar artinya dakwah bisa di lakukan dengan berbagai macam cara.
Saya berpendirian bahwa kemampuan yang di miliki seseorang itu berbeda- beda dan lingkungan yang di hadapi oleh setiap orang juga berbeda- beda, namun yang utama adalah bagaimana kemampuan kita itu di manfaatkan untuk kemaslahatan umat dan juga jangan di lupakan bahwa kita tidak perlu untuk mencari lingkungan dakwah yang ada di luar jangkauan kita, karena lingkungan kita sendiri pun merupakan ladang dakwah yang tidak bisa kita abaikan.
Dalam berdakwah kita tidak perlu menjadi orang lain, tapi cukup menjadi diri sendiri, diri sendiri di sini artinya membenahi apa2 yang ada pada kita : misal kita suka dunia musik, kita bisa mulai dengan mencoba memilih musik2 membawa kepada nuansa keagamaan spt musik gigi religius, atau jika suka chating bisa dengan sedikit2 di bumbui dakwah yang membangun dalam kegiatan chatingnya itu, atau orang yang suka main game (kaya lw do hehehe…..) bisa di awali dakwah ini dengan ketika masuk waktu shalat permainan itu langsung di tinggalkan, minimal kita bisa berdakwah dengan teman kita bahwa shalat itu lebih penting dari sekedar permaianan game.
Yang penting adalah warnai diri kita dengan nilai2 agama sesuai dengan jati diri kita, dan warnai lingkungan kita dgn nilai2 agama itu.
INGAT LINGKUNGAN KITA ADALAH LADANG DAKWAH KITA,
JANGAN ANGGAP DAKWAH HANYA SELALU BERKAITAN DENGAN MESJID, KARENA JUSTRU AGAMA INI HIDUP JIKA AGAMA INI MEWARNAI SEGALA SENDI KEHIDUPAN
MESJID ADALAH TEMPAT KOTEMPLASI, DAN LINGKUNGAN ADALAH TEMPAT MENGAPLIKASIKAN HASIL KOTEMPLASI ITU
COBALAH SELALU MEMODIFIKASI SEGALA HAL YANG BERKAITAN DENGAN KEHIDUPAN KITA SEHARI2 KEPADA KEHIDUPAN YANG ISLAMI
Wallahua'lam
Cibubur, Lupa tanggal
-ayoeng-
Posted at 07:23 pm by ayoeng
Permalink
Mengapa engkau ingin melamar anak saya ?, saya jawab "Karena nama saya telah berubah", Bukankah nama mu fulan ?, saya jawab" Bukan lagi, nama saya sekarang berganti menjadi dosa, karena saya rasakan diri saya ini adalah dosa", Kenapa bisa begitu ?, saya jawab "Karena putri bapak telah menjadi partner yang sangat baik untuk berubahnya nama saya ini", Dengan apa kau akan membahagiakan putri saya jika ia menikah dengan engkau ?, saya jawab "Siapa yang bilang saya akan membahagiakan putri bapak ?, saya bilang saya hanya akan menikahi putri bapak", Kalau begitu saya tidak akan mengizinkan putri saya untuk menikah dengan engkau, saya jawab " Kenapa begitu ?", Karena engkau tidak bisa membahagiakan putri saya, saya jawab "Apakah kebahagiaan merupakan sebuah pilihan ?, bukankah kebahagiaan hanya lah sebuah bagian dari sirkulasi kehidupan, seperti berputarnya roda, kadang kita bisa menikmati kabahagiaan itu kadang tidak, siapa pun dia", Maksud kamu?, saya jawab " Ya, yang merupakan pilihan adalah kebaikan dan keburukan, sedang kebahagiaan dan kesengsaraan bukan bagian dari pilihan, menikah ini adalah pilihan saya untuk mencapai kebaikan dan bukan mencapai kebahagiaan, karena di dalam pernikahan kita bukan hanya akan selalu menemui kebahagiaan tapi juga kita akan menemui kesengsaraan betapa pun banyaknya materi yang di punya di dalam pernikahan itu, apakah bapak pernah menemui seseorang yang kaya yang hidupnya selalu bahagia? Atau pernahkah bapak menemui seorang fakir yang selamanya sengsara?, tidak! kebahagiaan terletak di dalam hati, bukan pada materi dan dia selalu berganti seiring perputaran roda, jadi sekali lagi saya berpendirian bahwa kabahagiaan bukan merupakan sebuah pilihan, yang merupakan pilihan adalah kebaikan", Apakah kamu akan mengajak putri saya sengsara demi sebuah kebaikan? Saya jawab " Mana yang lebih bapak suka apakah ingin kebahagiaan dalam keburukan atau kesengasaraan dalam kebaikan ?" Tentu saya tidak ingin keduanya, saya menginginkan kebahagiaan dalam kebaikan, saya jawab "Bukankah tadi kita telah sepakat bahwa kebahagiaan bukanlah sebuah pilihan, apa pun keadaan kita pasti kita akan menemui kebahagiaan dan juga kesengsaraan dalam hidup, tapi bapak juga memilih kebaikan, nah kebaikan itulah yang hampir semua orang yang sadar pasti menginginkannya, dan itu bisa karena itu merupakan sebuah pilihan dalam hidup……..dan niat saya menikahi putri bapak tidak lain adalah menginginkan kebaikan bagi diri saya dan juga puti bapak dan bukan kebahagiaan, tapi Insya Allah, seberat apa pun kesengsaraan yang kita terima selama kita berada dalam jalan kebaikan maka kita akan merasakan apa itu kebahagiaan………….
NB: Apakah ada yang bisa memastikan bahwa jika kita hidup mapan sekarang maka akan selamanya mapan? Atau apakah ada yang bisa memastikan jika kita hidup belum mapan maka akan selamanya tidak mapan?, syarat utama dalam pernikahan adalah niat baik untuk membina keluarga dan niat yang kuat untuk selalu menafkahi keluarga itu baik lahir mau pun batin.
Baik bila kita menunda pernikahan bila kita belum mampu, namun kita harus konsekuen untuk menahan diri untuk tidak membina hubungan dengan lawan jenis, bila kita sudah berani membina hubungan dengan lawan jenis berarti kita juga harus konsekuen untuk berani menjalani pernikahan, jangan bersikap sebagai pecundang yang hanya berani membina hubungan dengan lawan jenis tanpa berani menuju pernikahan, jangan pernah bersembunyi di balik tameng dalil pengenalan pribadi masing2 untuk menghalalkan hubungan yang di haramkan ALLAH………….Be a Man, Not Be a Looser……Pal
Cibubur, Lupa tanggal,.. (sehari sebelum ke rumah camer, heee)
-ayoeng-
Posted at 07:04 pm by ayoeng
Permalink
Sunday, February 26, 2006
Pledoi-ku Atas Nama Cinta
Kilaunya Warna biru yang ku tangkap tidak serta merta ku akan berkata bahwa air laut itu biru, tapi aku akan katakan bahwa itulah yang ku lihat bahwa air laut itu biru warnanya, untuk sementara biarkan aku untuk mengatakan bahwa air itu berwarna biru wahai "Kebenaran", walau pun pada hakikatnya aku telah mengetahui bahwa air itu hanya akan menampakan dirinya sesuai dengan mata apa aku melihat, mata hakikatkah? atau mata keindahan.........................
Dalam diriku aku berbicara pada dua kebenaran, ada saat kebenaran itu bersimpangan, namun ada saat juga kebenaran itu berdampingan, saat ini aku coba menjiwai kebenaran itu sebagaimana pujangga menjiwai karyanya, seraya berharap dua kebenaran yang berdampinganlah yang ku jiwai.............................
Apa kalian akan berkata bahwa aku mengatakan bahwa kebenaran itu 2, tidak!, aku hanya berkata bahwa Kebenaran itu memberikan jalan untuk menemukan diri-Nya melalui jalan kebenaran lain, atau sebagai tanda kasih untuk- Nya, jika Dia meRidhoi- Nya
Karena birunya warna laut adalah pintu awal bagi kita untuk mengetahui bahwa air itu mempunyai warna, walaupun pada akhirnya kita akan berkata bahwa air itu pada hakikatnya adalah bening
NB: Jadikan cinta kita kepada mahluk sebagai tanda kasih kita kepada- Nya, jangan jadikan cinta kita kepada mahluk sebagai penghianatan Kepada- Nya
Cibubur, 31 Desember 2005
-ayoeng-
Posted at 05:30 am by ayoeng
Permalink
Perbedaan Ta'aruf Dan Pacaran
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum wrwb..........
Salam revolusioners! bagi semua sahabat seperjuangan, semoga revolusi kita terhadap agama merupakan sebuah tanda bagi kita dalam usaha menyegarkan kembali semua syariah yang terkandung dalam Dienul Haq ini secara komprehensif…, yang selama ini selalu terpojokan dan selalu terbungkus oleh bingkai2 kemaksiatan.
Mungkin pemahaman saya lahir dari sebuah pengalaman yang sangat sempit dalam memahami sebuah fenomena yang sudah sedemikian "memanusia" pada diri manusia.
Suatu hubungan yang ada di antara seorang manusia dgn manusia yang biasa di sebut cinta, dan lebih spesifik hub antara seorang laki2 dgn seorang wanita yang bukan mahramnya.
Dalam dunia agama (islam) untuk menghalalkan hub ini ada sebuah jalan yang harus di lalui terlebih dahulu yaitu taaruf, sedang dalam dunia umum istilah ini lebih di kenal dengan istilah pacaran. Secara sepintas mungkin perbedaan di antara ke dua istilah ini adalah hanya dalam bidang bahasa, namun sebenarnya ini lebih kepada perbedaan di dalam hal yang teknis.
Persamaannya adalah istilah ini sama2 mempunyai tujuan agar di antara ke dua pasangan lebih saling mengenal pribadi masing2, namun sekali lagi hal teknislah yang membedakan kedua istilah tersebut.
Jika dalam taaruf symbol agama berperan di sana, sedang dalam pacaran symbol hawa nafsu yang berperan di sana, walau pun keduanya merupakan gejala manusiawi belaka. Hanya saja dalam taaruf gejala manusiawi itu lebih di arahkan sedang dalam pacaran gejala manusiawi itu di lepaskan begitu saja.
Aktivitas pacaran selalu di tandai sbg bentuk2 kemaksiatan spt: (maaf) berciuman, berpegangan tangan, hingga yang terparah ML (naujubillah…..
Sedang taaruf di tandai dengan hal2 yang sebaliknya ……spt: tidak boleh bersentuhan langsung dengan pasangannya, berbincang2 dgn di dampingi oleh orang ke tiga, berhubungan melalui perantara orang lain, yang pada intinya pacaran di lakukan pengenalan "tanpa media", sedang taaruf di lakukan pengenalan dgn melalui "media",
SAMPAI SINI INI ADALAH PEMAHAMAN SAYA TTG FENOMENA INI, namun ternyata saya terhenyak dgn input yg di berikan oleh saudara baik saya (makasih gun dah kasih pencerahan buat saya), ternyata maksiat bukan hanya terletak pada hal yang lahir belaka, tapi maksiat itu juga meliputi hati (walau pun pemahaman ini juga bukan merupakan pengetahuan yang baru bagi saya).
Tapi pengetahuan ini sudah membongakar habis pemahaman saya ttg perbedaan antara taaruf yg ada dalam bingkai agama dgn pacaran yang ada dalam bingkai kemaksiatan.
Karena hal2 yang menjadi cirri khas dari taaruf itu sendiri menjadi kabur buat saya, jika sudah berbicara ttg hati metode yg ada dalam taaruf pun tidak akan mencukupi utk memenuhi sebuah tuntutan agama (hati pun tdk boleh bermaksiat) krn walau pun pengenalan itu di lakukan dengan melalui perantara, toh hati akan sangat sulit utk kita kendalikan, karena bagaimana mungkin kita akan menyatakan setuju utk menjatuhkan pilihan kita pada pasangan kita itu tanpa di barengi dgn perasaan cinta yg ada pada diri kita, sedang rasa cinta itu sendiri adalah sebuah maksiat hati…….
Lalu jika saya kaitkan hal ini dgn aktivitas shalat, Dalam shalat tujuannya adalah menjaga manusia agar tidak berbuat maksiat, caranya dgn dua tahap pertama; dgn hal2 teknis spt :jungkir balik,yang tujuannya bukan hanya sampai di situ tapi kekhusyuan yang di harapkan dpt tercapai dgn jungkir balik itu. Dalam taaruf pun mempunyai epistem yg sama, tujuannya adalah menjaga agar manusia tidak berbuat maksiat, caranya dgn dua tahap, pertama dgn hal2 teknis spt: tidak boleh bersentuhan antara lawan jenis dll, yang tujuannya pun bukan hanya sampai di situ tapi lebih kepada agar hati pun tidak mengarah pada hal2 yang mendekati kemaksiatan.
Dalam tulisan ini saya hanya coba mendefinisikan apa itu taaruf dan apa itu pacaran, sesuai dgn pemahaman saya, walau pun saya blm sampai pada sebuah kesimpulan…..hingga bisa membuat sebuah rumusan yg melahirkan sebuah metode aplikasi yang benar ttg aktivitas taaruf dan aktivitas pacaran….?????
Cibubur, 17 Januari 2006
-ayoeng-
Posted at 05:26 am by ayoeng
Permalink
Antara Syariat Dan Hakikat
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum wrwb....
Salam Revolusioners sahabat semua....
Pada suatu malam saya bertemu dengan teman2 lama saya (temen SMP) yang kesemuanya harim (cewe) dalam suatu pengajian, terlihat sebuah ghirah agama yang amat sangat, saya lihat pada mereka (hidup anak2 latoe….), tapi ada satu yang kurang neh jilbab sebagai symbol agama Islam bagi seorang muslimah belum melekat pada mereka semua (eh ada deng atu…eva). Tapi entah kenapa saya kemudian teringat kepada temen2 kampus saya yang harim juga, yang kebetulan mereka mengenakan jilbab (karena kebetulan kampus saya berbasis Islam) mereka kerap kali suka ikutan nongkrong di kos2an laki2nya di pinggir kampus, yang terkadang sampai ada yang nginep neh ……(bukan maksud buka aib kampus sendiri see…), tapi harim2 kaya gini see hanya segelintir orang aja ko' ngga semua anak kampus saya spt itu hehehe biasalah oknum.
Tapi inti dari ini semua see saya hanya teringat pada petuah dari guru saya yang beliau mengatakan bahwa agama itu pada intinya terdiri dari sebuah hakikat dan syariat, artinya agama itu terdiri dari hal2 fiqh yang di sebut syariat (aturan agama yang kasat mata), dan hal2 tasawuf yang di sebut hakikat ( aturan agama yang menyangkut masalah batin).
Jadi menurut guru saya agama itu baru akan menjadi sempurna jika seseorang sudah dapat menjalani keduanya, dan setiap bagian dari salah satu bagian agama itu masing2 mempunyai poin2 yg berbeda. Jadi bukan berarti ketika secara fiqh dia baik sudah berarti secara tasawuf dia sudah pasti baik juga, karena spt pada contoh yg saya kemukakan di atas bahwa kebaikan yang satu bukan merupakan jaminan bagi kebaikan bagian yang lainnya, dan begitu juga sebaliknya, tidaklah bisa di katakan benar jika dia baik secara akhlak saja namun syariatnya terbengkalai, karena setiap pelanggaran terhadap salah satu poin itu berarti sebuah dosa sudah melekat pada dirinya, jika dia tidak ada usaha untuk memperbaikinya.
Tapi bukan berarti saya menampik kesulitan2 yg ada dalam proses memperbaiki diri, spt ketika kesulitan memakai jilbab ada pada masalah pekerjaan, lingkungan, ato pembiasaan yg tidak bisa langsung begitu saja di rubah, tapi minimal kita berusaha untuk memperbaiki ke arah itu walau pun secara bertahap krn Allah suka orang yang selalu berusaha memperbaiki dirinya, walaupun dengan bersusah payah.
BANGUNKAN AKU DALAM WUJUD KEKASIH-MU
Pertama ku mohon semoga pena, nafas, dan hati ini bisa membangunkan aku dalam wujud kekasih-Mu
Tapi aku tidak bisa memuja dan menghantarkan- Mu kata cinta
Karena aku belum tahu apa itu cinta, tapi aku tahu apa itu kejujuran
Oleh karena itu tuntunlah aku agar dapat memahami dan merengguknya
Apa itu C, apa itu I, apa itu N, apa itu T, apa itu A
Biar ku rasakan satu persatu bagian itu.
NB: Semoga aku dan sahabat semua di berikan pemahaman yang sempurna kepada agama ini, sehingga dapat menjalani setiap bagian partikel dari agama ini untuk mencapai kesempurnaan agama-Nya, untuk mencapai Keridhoan-Nya.
Manusia yang di Cintai-Nya bukanlah manusia yang tidak mempunyai kesalahan, melainkan manusia yang mempunyai semangat yang kuat untuk selalu mensucikan (memperbaiki) dirinya, walaupun dengan tertatih- tatih, setapak demi setapak.
Cibubur, 1 Dzul Qa'dah 1426 H/ 3 Desember 2005 M
-ayoeng-
Posted at 04:09 am by ayoeng
Permalink
Entah harus bermula dari mana dunia kebijaksanaan itu, apakah aku mengenakan pakaian agama untuk menemui dunia ku, atau agama ku padankan dengan duniaku untuk menemukan realitas diriku, atau duniaku dengan modal pemahaman diriku untuk menemukan agamaku?
Ku coba langkahkan percaharian ini melalui aku dengan mengenakan pakaian agamaku, namun ternyata dunia ini telah menolak risalah ku, karena untuk sebagian penganut agama duniaku adalah aku, dan agama adalah bukan duniaku, sehingga agama tidak pantas di kenakan untuk melihat duniaku
Lalu ku coba padankan agama ini dalam duniaku, namun aku merasa semakin jauh dengan realitas diriku, karena padanan ini adalah sebuah keterpaksaan, tidak sampai hati ku melihat agama yang terkikis hanya untuk mencari diriku yang tidak akan mungkin ku temui dalam padanan ini
Namun melalui duniaku, melalui penghayatan diriku akan dunia ini bisa ku temukan agamaku, namun jika kembali ku hadapkan agama temuan ku ini pada duniaku kembali dia menolak risalah ku, .......
Hingga sampai pada keyakinan aku akan sebuah realitas bahwa dunia kebijaksanaan adalah sebuah perjuangan menyesuaikan aku, agama, dan duniaku, selama itu belum sesuai itulah ladang perjuanganku dalam menempuh kehidupan ini.
NB: Sedikit mengutip perkataan seorang antropolog Inggris kelahiran Mesir Fedwa El- Guindi yang mengatakan bahwa Agama adalah lambang kesalehan, ketaatan, dan perlawanan. Dan menurut hemat saya agama yang ada sekarang hanya berkutat pada masalah kesalehan dan ketaatan, namun lupa bahwa dalam agama juga ada sisi perlawanan, perlawanan yang di maksud adalah perlawanan memperjuangkan semua apa yang kita yakini dalam agama itu sendiri, baik hal2 yang teknis hingga hal2 yang besar dalam beragama. Dan tambahan kutipan dari seorang filsuf muslim kelahiran Pakistan Muhammad Iqbal (hehehe buku pinjeman dari gun neh…) bahwa kita tidak akan menemukan identitas kita atau pengetahuan yang mendalam tentang diri kita selama kita tidak pernah melakukan perlawanan terhadap apa pun ( Yang orientasi hidupnya hanya penuh dengan bagaimana kita bisa hidup, makan dan tidur dengan nyenyak tanpa memikirkan dan mengadakan perlawanan tentang bagaimana kita bisa hidup, makan dan tidur sesuai dengan keyakinannya tentang kebaikan, yang tentunya kebaikan dalam konteks agama ).
I WILL FIGHT FOR MY FAITH .......INSYA ALLAH
Cibubur, !7 Dzulhijah 1426 H/ 17 Januari 2006 M
-ayoeng-
Posted at 04:04 am by ayoeng
Permalink
|
|
|