Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum wrwb, Salam Revolusioners sahabat semua…..
Isu utama yang sering di jadikan dunia barat untuk mendiskreditkan dunia timur khususnya dunia Islam adalah isu tentang kebebasan, acapkali dengan menggunakan isu ini dunia barat memandang dunia Islam dengan pandangan mencibir seolah dia ingin berkata bahwa umat Islam adalah umat yang terbelakang dalam segi kemanusiaan, karena Islam telah membelenggu kebebasan manusia secara hak asasi.
Dan di Indonesia pun isu tentang kebebasan tengah menghangat, seiring di adakannya UU anti pornografi dan larangan merokok di tempat2 umum, dan bagi yang kontra terhadap UU ini, UU ini di anggap sebagai sebuah belenggu kebebasan. Apakah arti kebebasan? Mengapa ia harus di adakan ?, atau mengapa ia harus di tiadakan?
Esensi manusia menurut Sartre baru terlihat adalah ketika manusia itu di hadapkan pada sebuah pilihan dan dia harus memilih berdasarkan keinginan yang bebas yang ada di dalam dirinya, jadi mutlak menurut Sartre bahwa manusia baru akan mencapai hakikat kemanusiaan jika dia memang hidup dalam kebebasan.
Nietszhe pernah berkata dengan sangat berani "Tuhan telah mati", kata2nya ini adalah efek dari pandangannya tentang arti dari kebebasan, karena menurutnya Tuhan atau agama adalah musuh paling nyata kebebasan dalam kehidupan manusia, dan manusia menurutnya tidak akan mendapatkan kebebasan selama dia masih mempunyai Tuhan.
Namun lain halnya dengan Jaspers filsuf yang terkemudian dari Nietszhe, dia mengatakan bahwa manusia baru akan mencapai kebebasannya bilamana di dalam kehidupannya manusia mampu menghayati arti dari transendensi metafisik (agama).
Dari pola pikir para filsuf tersebut bisa kita lihat bahwa ada 2 perbedaan mendasar dari para filsuf tersebut, yang pertama menganggap agama sebagai pembelenggu kebebasan, dan yang ke dua agama di anggap sebagai sarana mencapai kebebasan.
Jika kita kembali pada contoh kasus di atas yaitu pornografi dan rokok, jelas sudah bahwa hal ini adalah hal yang di larang agama, namun apakah dengan larangan ini berarti agama telah membelenggu kebebasan manusia atau justru menyediakan sarana untuk membebaskan manusia…? Untuk memecahkan hal ini hal utama yang harus di ketahui adalah siapakah manusia?,
Ada beberapa pendapat filsuf tentang konsep manusia, pertama Ibnu Sina, dia mengatakan untuk mendeteksi manusia tinggal memejamkan mata dan dengan begitu dia baru akan menyadari dirinya, atau Descartes yang mengatakan untuk mendeteksi manusia adalah dengan menggunakan akal pikirannya "Aku berpikir maka aku ada", atau Marcel yang mengatakan untuk mendeteksi manusia dia harus menemukan "Tubuh yang merupakan tubuhku" artinya manusia yang menyadari tubuhnya, dari sini bisa di ambil kesimpulan bahwa hakikat manusia adalah sisi rohani dari kemanusiaannya itu.
Jika seseorang merokok apakah dia telah memperoleh kebebasannya atau sebaliknya, jika di katakan dalam langkah dia memilih untuk merokok itu benar adalah sebuah kebebasan, namun ketika dia sudah sampai pada tahap merokok justru dia telah menciptakan sebuah belenggu baru bagi kebebasannya yaitu dia akan menjadi ketergantungan kepada rokok, dan itu adalah sebuah belenggu baru baginya. Atau pada hal pornografi, apakah dengan di larangnya hal yang berbau pornografi itu adalah sebuah belenggu kebebasan atau sebaliknya sebagai sarana penyedia kebebasan bagi manusia. Dalam sebuah penelitian tentang orang- orang yang ada di bawah pengaruh hal yang berbau pornografi di katakan bahwa semua hal mengenai pornografi efeknya adalah membuat seseorang menjadi pasif dan statis dalam kehidupannya karena dia hidup dalam sebuah utopi pikirannya, dengan begini bukankah seseorang justru telah membuat belenggu baru bagi kebebasannya.
BERAPA BELENGGU LAGI YANG AKU TAK TAU BAHWA AKU TELAH TERBELENGGU OLEHNYA???
Yang ingin saya katakan dalam jabaran ini adalah bahwa sebenarnya kebebasan yang anti kepada agama sebenarnya adalah sebuah kebebasan yang berasal dari kemauan jasmaniyah saja, yang kebebasan ini tidak akan sampai kepada sebuah titik kebebasan, namun justru akan membuat sebuah belenggu baru bagi kebebasan manusia itu sendiri. Dan sebaliknya kebebasan yang di tawarkan dalam perspektif agama adalah kebebasan yang di dasarkan pada sisi hakikat dari kemausiaan itu sendiri yaitu sisi kerohanian yang mendasari kebebasan jasmani, dari sisi inilah akan berujung pada hakikat dari sebuah kebebasan, kebebasan sejati, namun bukan sebuah kebebasan utopi dalam artian kebebasan hanya dalam hal sisi rohani, tapi kebebasan ini meliputi kebebasan manusia secara kemanusiaannya baik rohani mau pun jasmani, inilah hakikat dari kebebasan.
Dalam hal ini ilustrasi yang bisa saya ajukan adalah seperti ketika seorang napi yang berdiri di antara pintu sel penjara dan pintu ke alam kebebasan, kemudian seorang sipir memerintahkan kepada si napi untuk melewati pintu alam kebebasan, namun si napi menolak dengan dalih dia telah bebas dan kebebasan haruslah di tandai dengan kebebasan dia untuk memilih lewat pintu mana dia akan berlalu, karena si sipir telah memerintah dia untuk melewati pintu alam kebebasan,maka menurut si napi jika dia mengikuti keinginan si sipir dia berarti bukan orang yang bebas, karena dia berada di bawah tekanan si sipir, sehingga dia lebih memilih untuk melalui pintu sel penjara, karena dengan begitu menurutnya dia telah memperoleh kebebasannya karena dia tidak mengikuti keinginan si sipir yang berarti dia tidak berada di bawah tekanan orang lain…sehingga di masuk ke dalam sel penjara atas dasar pikirannya tentang kebebasannya itu.
Konsep nya tentang kebebasan sebenarnya hanya berujung pada sebuah belenggu kebebasan yang lain, karena belenggu dalam tahapan jasmaniyah tidak akan menemui titik kebebasan, dan hanya akan menemukan sebuah belenggu- belenggu kebebasan dalam bentuk yang lain, yang tidak akan pernah berakhir.
Konsep kebebasan yang berdasar hanya kepada jasmaiyah inilah yang telah menjadi dasar pemikiran yang ada di barat, jadi konsep- konsep kebebasan yang di tawarkan oleh dunia barat adalah hanyalah sebuah belenggu- belenggu baru yang bertopeng kebebasan
Konsep kebebasan yang hakiki semua di tawarkan hanya oleh agama yang Haq ini, semua aturan-aturan yang ada dalam agama ini hanya lah sebagai sarana agar manusia bisa mencapai kebebasan hakikat kemanusiaanya, semua aturan2 agama di jadikan ALLAH hanya sebagai sarana di mana manusia bisa memperoleh kebebasan yang hakiki, tidak lagi terbelenggu oleh hal jasmaniyah yang hanya akan menciptakan sebuah belenggu bagi manusia itu sendiri.
OBYEK REVOLUSI TERBESAR MANUSIA ADALAH HAWA NAFSUNYA, OLEH KARENA ITU AWASILAH SELALU IA
Marilah kita lihat betapa agama yang Haq ini telah memberikan banyak jalan agar manusia mencapai kebebasannnya yang hakiki. Semua hukum yang ada di dalam agama ini memang telah di rancang sedemikian rupa untuk mencapai kebebasan ini.
Hukum yang menjadi ciri khas dari umat ini adalah ibadah puasa dan shalat. Dimulai dari aturan puasa, walaupun puasa adalah milik berbagai agama, namun tipikal puasa yang di miliki umat Islam sangat lah berbeda dengan agama lain, yang mana puasa di sana di latih agar manusia mencapai kebebasan dari belenggu jasmaninya, bukan berarti kita tidak memperdulikan jasmani, dan lalu membelenggu jasmani itu seperti yang ada dalam beberapa agama lain, tapi dalam puasa ini yang ingin di capai adalah bagaimana jasmani ini bisa kita kendalikan dan tidak menjadi sebuah belenggu bagi diri kita sendiri, yang selalu memaksa kita untuk selalu mengikuti keinginannya.
Dan yang kedua shalat. Max Horkheimer mengatakan bahwa manusia sekarang tanpa dia sadari telah membelenggu dirinya sendiri dengan rutinitas dia sehari2, kegiatannya sudah tersistematisir sedemikian rupa sehingga menjadikan manusia2 sekarang tidak ubahnya seperti sebuah robot yang sudah terprogram untuk menjalani kehidupannya, sehingga manusia2 sekarang menjalani kehidupannya berdasarkan insting semata dan bukan berdasarkan akal budi yang menjadi ciri khas kemanusiaannya. Dalam shalat lah di temukan di mana agar manusia di dalam kehidupannya selalu di kontrol untuk selalu membangkitkan jiwa kemanusiaanya selama 5 kali sehari, agar manusia kembali memperoleh kebebasannya sebagai seorang manusia sejati.
Subhanallah….inilah agama umat ini, agama yang menjanjikan kebebasan bagi semua pemeluknya, tak ada kebebasan sejati di luar kehidupan agama yang Haq ini…….
AKU DALAM WUJUD KU
Ketika ku pegang kunci ini ingin rasanya ku berkata sambil berteriak
Hai ombak derulah aku, hai angin hembuslah aku, hadapi aku
Aku adalah Aku, yang sanggup hadapi semua yang menerpaku
Panas dingin, pahit manis, semua sama di hadapan ku
Tak ada lagi tabir yang sanggup menenggelamkan ku
Wujud ku adalah aku, tak ada lagi penghilang keberadaanku
Takkan ada ruang antara aku dan wujud ku
Aku adalah wujudku yang sanggup hadapi semua yang menerpaku
Wallahua'lam
Cibubur,10 Rabiul Awal 1427 H/ 8 April 2006 M
-ayoeng-